Selasa, 14 Agustus 2018

Kh Shaleh Darat

MBAH KYAI SHALEH DARAT, beliau adalah Wali Allah besar pada paruh kedua abad 19 dan awal abad 20 di tanah Jawa. Mbah Shaleh Darat dari Semarang, Jawa Tengah ini hidup sezaman dengan dua Waliyullah besar lainnya: Syekh Nawawi Al-Bantani dari Banten, dan Mbah Kholil Bangkalan, di Madura, timur pulau Jawa. Dua orang muridnya kelak menjadi amat terkenal dan mempengaruhi Islam di Indonesia, melalui organisasi yang mereka dirikan: Muhammadiyyah dan Nahdlatul Ulama.


Nama lengkap beliau Muhammad Shalih ibn Umar as-Samarani lahir di Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara pada sekitar tahun 1820 /1235 H, dengan nama Muhammad Shalih, Dalam kitab-kitab yang ditulisnya, dia acap menggunakan nama Syeikh Haji Muhammad Shalih ibn Umar Al-Samarani. pemberian nama Darat diselempangkan ke pundak beliau karena tinggal di kawasan dekat pantai utara Semarang yakni, tempat berlabuhnya orang-orang dari luar Jawa. Kini, nama Darat tetap lestari dan dijadikan prasasti nama kampung, Nipah Darat dan Darat Tirto. Saat ini kampung Darat masuk dalam wilayah Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara.
KH. Shaleh Darat merupakan sosok ulama yang memilki andil besar dalam penyebaran Islam di Pantai Utara jawa Khususnnya di Semarang. Ayahnya yaitu KH Umar, adalah ulama terkemuka yang dipercaya Pangeran Diponegoro dalam perang Jawa melawan Belanda di wilayah pesisir utara Jawa. Setelah mendapat bekal ilmu agama dari ayahnya, Shaleh kecil mulai mengembara, belajar dari satu ulama ke ulama lain. Tercatat KH Syahid Waturaja (belajar kitab fiqih, seperti Fath al-Qarib, Fath Al Mu’in, Minhaj al-Qawim, dan Syarb al-Khatib).
Kyai Shaleh Darat menimba ilmu di pesantren-pesantren pada jamannya, ia banyak berjumpa dengan kyai-kyai masyhur yang dikenal memiliki kedalaman serta keluasan ilmu batin, dan kemudian menjadi gurunya. Di antara nama kondang tersebut salah satunya adalah K.H. M. Sahid yang merupakan cucu dari Syaikh Ahmad Mutamakkin, seorang ulama asal Desa Kajen, Margoyoso, Pati Jawa Tengah yang hidup di jaman Mataram Kartosuro pada sekitar abad ke-18. Dari Syaikhnya itulah, ia belajar beberapa kitab fiqh, seperti Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Minhaj al-Qawim dan, Syarh al-Khatib. Terdapat catatan bahwa, karena kitab-kitab tersebut bukanlah “kelas” pengantar, maka mempelajarinya tak pelak membutuhkan waktu relatif lama.
Safari perjalanan keilmuannya berlanjut kepada Kyai Raden Haji Muhammad Salih ibn Asnawi, di Kudus. Dari padanya beliau mengkaji Kitab Al-Jalalain al-Suyuti. Di Semarang beliau mendalami nahwu dan sharaf dari Kyai Iskak Damaran, kemudian belajar ilmu falak dari Kyai Abu Abdillah Muhammad al-Hadi ibn Baquni. Berlanjut kepada Ahmad Bafaqih Ba’lawi demi mengkritisi kajian Jauharah at-Tauhid buah karya Syaikh Ibrahim al-Laqani dan Minhaj al-Abidin karya Al-Ghazali. Masih di kota loenpia, Semarang-lah, Kitab Masa’il as-Sittin karya Abu al-Abbas Ahmad al-Misri, sebuah depiksi tentang ajaran dasar Islam populer di Jawa sekitar abad ke- 19, dicernanya dengan tuntas dari Syaikh Abdul al-Ghani.
Tak pernah puas, haus ilmu, itulah sifat setiap ulama. Demikian pula beliau, nyantri kepada Kyai Syada’ dan Kyai Murtadla’ pun dijalaninya yang kemudian menjadikannya sebagai menantu. Setelah menikah, Sholeh Darat merantau ke Mekkah, Di tanah haram, dia berguru kepada ulama-ulama besar, antara lain Syekh Muhammad al-Muqri, Syekh Muhammad ibn Sulaiman Hasbullah al-Makki, Sayyid Ahmad ibn Zaini Dahlan, Syekh Ahmad Nahrawi, Sayyid Muhammad Salen ibn Sayyid Abdur Rahman az-Zawawi, Syekh Zahid, Syekh Umar asy-Syami, Syekh Yusuf al-Mishri dan lain-lain. Karena kecerdasan, kealiman dan keluasan ilmu serta kemampuannya, akhirnya Mbah Shaleh mendapat ijazah dari beberapa gurunya untuk mengajar di Mekah.
Selama di Mekah ini beliau didatangi banyak murid, terutama dari kawasan Melayu-Indonesia. Beberapa tahun kemudian Mbah Shaleh kembali ke Semarang karena ingin berkhidmat kepada tanah airnya. Beliau kemudian mendirikan pesantren di kawasan Darat, Semarang – dan karenanya beliau dikenal sebagai Kyai Shaleh Darat. Kepada murid-muridnya, Mbah Shaleh Darat selalu menganjurkan agar mereka giat menuntut ilmu. Menurut beliau inti Qur’an adalah dorongan kepada umat manusia untuk menggunakan seluruh potensi akal-budi dan hatinya guna memenuhi tuntutan kehidupan dunia dan akhirat. Beberapa santri seangkatannya, antara lain KH. Muhamad Nawawi Banten (Syaikh Nawawi Aljawi) dan KH Cholil Bangkalan.
Sepulang dari Makkah, Muhammad Shaleh mengajar di Pondok Pesantren Darat milik mertuanya KH Murtadlo. Semenjak kedatangannya, pesantren itu berkembang pesat. Di pesantren inilah ulama’-ulama’ seperti : Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari sang pendiri Nahdlatul Ulama, Kyai Haji Mahfuz Termas yang pakar hadits dan pendiri Pesantren Termas Pacitan, Kyai Haji Ahmad Dahlan sang pendiri organisasi Muhammadiyah, Kyai Haji Idris pendiri Pesantren Jamsaren Solo dan Kyai Haji Sya’ban sang ahli ilmu falak yang tersohor, Kyai Haji Bisri Syamsuri, Kyai Haji Dalhar, yang juga dikenal sebagai Wali Allah dan pendiri Pesantren Watucongol, Muntilan, selain itu beliau juga merupakan guru spiritualitas RA. Kartini. Dengan demikian dapat dikatakan, Kiai Shaleh Darat merupakan guru bagi ulama-ulama besar di Tanah Jawa. Bahkan sampai Nusantara.
Salah satu muridnya yang terkenal tetapi bukan dari kalangan ulama adalah Raden Ajeng Kartini. Karena RA Kartini inilah Mbah Shaleh Darat menjadi pelopor penerjemahan al-Qur’an ke Bahasa Jawa. Menurut catatan cucu Kyai Shaleh Darat, RA Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Qur’an. Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Shaleh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Shaleh Darat. Dalam sebuah pertemuan RA Kartini meminta agar Qur’an diterjemahkan karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. Tetapi pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan al-Qur’an. Mbah Shaleh Darat melanggar larangan ini. Beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf “arab gundul” (pegon) sehingga tak dicurigai penjajah. Kitab tafsir dan terjemahan Qur’an ini diberi nama Kitab Faid ar-Rahman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada R.A. Kartini pada saat dia menikah dengan R.M. Joyodiningrat, seroang Bupati Rembang. Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan: “ Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.” Melalui terjemahan Mbah Shaleh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya: Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya (Q.S. al-Baqarah: 257). Dalam banyak suratnya kepada Abendanon, Kartini banyak mengulang kata “Dari gelap menuju cahaya” yang ditulisnya dalam bahasa Belanda: “Door Duisternis Toot Licht.” Oleh Armijn Pane ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya. Namun sayangnya penerjemahan kitab ini tidak selesai karena Mbah Shaleh Darat keburu wafat
Pemikiran dan Ajaran Beliau
Kyai Shaleh Darat dikenal sebagai pemikir di bidang ilmu kalam. Ia adalah pendukung paham teologi Asy’ariyah dan Maturidiyah. Pembelaannya terhadap paham ini jelas kelihatan dalam bukunya, Tarjamah Sabil al-’Abid ‘ala Jauhar at-Tauhid. Dalam buku ini, ia mengemukakan penafsirannya terhadap sabda Rasulillah SAW mengenai terpecahnya umat islam menjadi 73 golongan sepeninggal Beliau, dan hanya satu golongan yang selamat.
Menurut Shaleh Darat, yang dimaksud Nabi Muhammad SAW dengan golongan yang selamat adalah mereka yang berkelakuan seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, yaitu melaksanakan pokok-pokok kepercayaan Ahlussunah Waljamaah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah.
Beliau juga mengajak masyarakat untuk gemar menuntut ilmu. Kyai Shaleh Darat selalu menekankan kepada para muridnya untuk giat menuntut ilmu. Beliau berkata “Inti sari Alquran adalah dorongan kepada umat manusia agar mempergunakan akalnya untuk memenuhi tuntutan hidupnya di dunia dan akhirat”.
Kiai Shaleh Darat memperingatkan kepada orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan dalam keimanannya, bahwa ia akan jatuh pada paham atau keyakinan sesat. Dalam Kitab Tarjamah Sabil al-‘Abid ‘Ala Jauharah al-Tauhid, KH Sholeh Darat menasehati bahwa, orang yang tidak mempunyai ilmu pengetahuan sama sekali dalam keimanannya, akan jatuh pada paham dan pemahaman yang sesat. Sebagai misal, paham kebatinan menegaskan bahwa amal yang diterima oleh Allah Ta ’Ala adalah amaliyah hati yang dipararelkan dengan paham manunggaling kawulo Gusti-nya Syaikh Siti Jenar dan berakhir tragis pada perilaku taklid buta. Iman orang taklid tidak sah menurut ulama muhaqqiqin, demikian tegasnya. Lebih jauh diperingatkan juga, agar masyarakat awam tak terpesona oleh kelakuan orang yang mengaku memiliki ilmu hakekat tapi meninggalkan amalan-amalan syariat lainnya, seperti sholat dan amalan fardhu lainnya. Kemaksiatan berbungkus kebaikan tetap saja namanya kebatilan, demikian inti petuah religius beliau.
Sebagai ulama yang berpikiran maju, ia senantiasa menekankan perlunya ikhtiar dan kerja keras, setelah itu baru bertawakal, menyerahkan semuanya pada Allah. Ia sangat mencela orang yang tidak mau bekerja keras karena memandang segala nasibnya telah ditakdirkan oleh Allah SWT. Ia juga tidak setuju dengan teori kebebasan manusia yang menempatkan manusia sebagai pencipta hakiki atas segala perbuatan. Tradisi berpikir kritis dan mengajarkan ilmu agama ini terus dikembangkan hingga akhir hayatnya.
Karya-Karyanya
Beliau adalah sosok yang sederhana dan bersahaja, Kesederhanaan yang ditopang kebersahajaan pribadinya, membuatnya selalu merendah dan menyebut dirinya sendiri sebagai orang Jawa yang tak faham seluk-beluk centang-perenang bahasa Arab. Ini terlihat dari karangan-karangan beliau dimana pada setiap prolog selalu tertulis, “buku ini dipersembahkan kepada orang awam dan orang-orang bodoh seperti saya”. Dalam Terjemahan Matan al-Hikam pada pendahuluannya tertera begini, “Ini kitab ringkasan dari Matan al-Hikam karya Al-Alamah al-Arif billah Asy-Syaikh Ahmad Ibn Ata’illah, saya ringkas sepertiga dari asal, agar memudahkan terhadap orang awam seperti saya, saya terjemahkan dengan bahasa Jawa agar cepat paham bagi orang yang belajar agama atau mengaji.
Ternyata, basis pemikiran sederhana ini, justru memotivasinya untuk melahirkan beragam karya intelektual yang bertujuan terarah yakni, pembelajaran murah-meriah dan sederhana kepada orang Jawa yang tak mengerti benar bahasa Arab. Niat tulus inilah yang di kemudian hari diwujudkannya dalam bentuk buku tafsir atas kitab berbahasa Arab yang telah disuntingnya ke dalam bahasa Jawa.
Di antara karyanya adalah:
Kitab Majmu’ah asy-Syari’ah al-Kafiyah li al-’Awam, kandungannya membicarakan ilmu-ilmu syariat untuk orang awam;
Kitab Munjiyat, tentang tasawuf, merupakan petikan perkara-perkara yang penting dari kitab Ihya’ `Ulum ad-Din karangan Imam al-Ghazali.
Kitab al-Hikam, juga tentang tasawuf, merupakan petikan perkara-perkara yang penting dari pada Kitab Hikam karangan Syeikh Ibnu Atha'illah al-Askandari.
Kitab Latha’if at-Thaharah, tentang hukum bersuci.
Kitab Manasik al-Hajj, tentang tata cara mengerjakan haji.
Kitab ash-Shalah, membicarakan tata cara mengerjakan sembahyang.
Tarjamah Sabil al-`Abid `ala Jauharah at-Tauhid, isinya mengenai akidah Ahli Sunnah wal Jamaah, mengikut pegangan Imam Abul Hasan al-Asy`ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi.
Mursyid al-Wajiz, kandungannya membicarakan tasawuf atau akhlak.
Minhaj al-Atqiya’, juga tentang tasawuf dan akhlak.
Kitab Hadis al-Mi’raj, tentang perjalanan suci Nabi Muhammad s.a.w untuk menerima perintah sembahyang lima kali sehari semalam.
Kitab Asrar as-Shalah, kandungannya membicarakan rahasia-rahasia shalat.

Karamah Beliau
Sebagai Wali Allah Mbah Shaleh Darat juga dikenal memiliki karamah. Makamnya pun menjadi tujuan ziarah banyak orang. Salah seorang wali terkenal yang suka mengunjungi makamnya adalah Gus Miek (HAMIM JAZULI). Meski meninggal di bulan Ramadhan, Haul Mbah Shaleh Darat diperingati setiap tanggal 10 Syawal di makamnya, yakni di kompleks pemakaman Bergota, Semarang.
Dikisahkan bahwa suatu ketika Mbah Shaleh Darat sedang berjalan kaki menuju Semarang. Kemudian lewatlah tentara Belanda berkendara mobil. Begitu mobil mereka menyalip Mbah Shaleh, tiba-tiba mogok. Mobil itu baru bisa berjalan lagi setelah tentara Belanda memberi tumpangan kepada Mbah Shaleh Darat. Di lain waktu, karena mengetahui pengaruh Mbah Shaleh Darat yang besar, pemerintah Belanda mencoba menyogok Mbah Shaleh Darat. Maka diutuslah seseorang untuk menghadiahkann banyak uang kepada Mbah Shaleh, dengan harapan Mbah Shaleh Darat mau berkompromi dengan penjajah Belanda. Mengetahui hal ini Mbah Shaleh Darat marah, dan tiba-tiba dia mengubah bongkahan batu menjadi emas di hadapan utusan Belanda itu. Namun kemudian Mbah Shaleh Darat menyesal telah memperlihatkan karamahnya di depan orang. Beliau dikabarkan banyak menangis jika mengingat kejadian ini hingga akhir hayatnya.
Kyai Shaleh Darat wafat di Semarang pada hari Jum’at Wage tanggal 28 Ramadan 1321 H/ 18 Desember 1903 dan dimakamkan di pemakaman umum “Bergota” Semarang. dalam usia 83 tahun.
Wallahu A'lam.

Senin, 19 Juni 2017

Memilih Pemimpin NON Muslim

Memilih Pemimpin Non-Muslim
MUSYAWAROH KUBRO KE 51 PP. MUS KARANGMANGU SARANG REMBANG
Dewan Mushohhih:
1. KH. M. Sa’id Abdurrochim(PP. MUS, Karangmangu, Sarang, Rembang)
2. KH. M. Najih Maimoen(Ribath Darusshohihain PP. AL ANWAR, Karangmangu, Sarang, Rembang)
3. KH. Aniq Muhammadun(PP. MAMBAUL ULUM, Pakis, Tayu, Pati)
Dewan Muharrir:
1. KH. M. Ahdal Abdurrochim(PP. MUS, Karangmangu, Sarang, Rembang)
2. KH. Abdurrohim(Kragan, Rembang)
3. KH. Abdullah Hasyim(PP. DARUT TAUHID AL HASANI, Senori, Tuban)
4. KH. Muaddib Fauzi (Lasem, Rembang)
Deskripsi masalah
Persoalan  kepemimpinan adalah persoalan yang sangat penting dan serius serta bukan persoalan kecil yang bisa dipermainkan, sehingga seseorang tidak boleh sembarangan dalam menentukan pilihannya.
Baru-baru ini muncul hasil keputusan Bahsul Masa’il Kiai Muda GP Anshor yang membahas “kepemimpinan Non-muslim di Indonesia” di kantor PP GP Anshor, Jakarta, minggu (12/3). Bahsul Masa’il yang diikuti sekitar 100 Kiai Muda dari berbagai pondok pesantren di Indonesia itu menghasilkan keputusan, bahwa dalam pilkada, setiap warga negara bebas menentukan pemimpin tanpa melihat latar belakang agama. Dalam konteks ini, seorang muslim diperbolehkan memilih pemimpin noN-muslim.
(Dilansir dari koran Suara Merdeka 13/3)
_*Pertanyaan:*_
A. Bagaimana hukum seorang muslim memilih pemimpin non-muslim yang dianggap lebih adil (amanah) dari pada pemimpin muslim yang tidak adil?
_*Jawaban:*_
*Tidak diperbolehkan, sebab sudah menjadi kesepakatan Ulama bahwa persyaratan pemimpin harus Islam.*
*Dengan pertimbangan sebagai berikut:*
Untuk mengimplementasikan kemaslahatan Islam dan muslimin (ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang beragama Islam, sebab sesuai nash Alquran orang kafir senantiasa bekonspirasi dan berserikat untuk menjatuhkan Islam).
Tidak diperbolehkan tanpa ada pengecualian “kondisi darurat” (sebagaimana dalam Syarwani vol: 9 hal: 73-74 diterangkan bahwa jika tidak ada paslon muslim yang layak atau ada namun khiyanat diperbolehkan melantik non muslim).
Sebab faktanya di Negara Indonesia banyak kandidat dari muslim yang adil mempunyai kapabilitas (kemampuan) dan kredibilitas (kejujuran).
Pilihan Umat Islam kepada kandidat muslim selaras dengan konstitusi (sebagaimana UUD 1945 pasal 29 ayat 2 menjelaskan, bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya) dan tidak menodai toleransi antar umat beragama atau konstitusional. Artinya mereka berhak mencalonkan diri di setiap momentum Pilkada dan kita juga punya hak untuk tidak memilih mereka.
_*Maroji’:*_
1. Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba’ah, vol: 5 hal: 197
2. Tuhfah Al-Muhtaj, vol: 9 hal: 75
3. Tafsir an Nawawi, vol:1 hal:120
4. Ruh Al-Ma’ani, vol:3 hal:120
5. Tafsir Ayat Al-Ahkam, vol:1 hal: 181
6. Hasyiyah Asy-Syarwani, vol:9  hal: 73-74
7. Adab Ad-Dunya Wa-Ad-din, vol: 1 hal: 171
8. Tafsir Al-Khozin, vol: 2 hal: 296
9. Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, vol: 4 hal: 18
*الفقه على المذاهب الأربعة (ج : 5 صـ : 197)*
مبحث شروط الإمامة  -- اتفق الأئمة رحمهم الله تعالى على : أن الإمامة فرض وأنه لا بد للمسليمن من إمام يقيم شعائر الدين وينصف المظلومين من الظالمين وعلى أنه لا يجوز أن يكون على المسلمين في وقت واحد في جميع الدنيا إمامان لا متفقان ولا مفترقان وعلى أن الأئمة من قريش وأنه يجوز للإمام أن يستخلف  *واتفقوا : على أن الإمام يشترط فيه : أولا أن يكون مسلما ليراعي مصلحة الإسلام والمسلمين فلا تصح تولية كافر على المسلمين*
*تحفة المحتاج في شرح المنهاج (ج : 9 صـ : 75)*
*(شرط الإمام كونه مسلما) ليراعي مصلحة الإسلام والمسلمين (مكلفا)، لأن غيره في ولاية غيره وحجره فكيف يلي أمر الأمة. (كونه مسلما) فلا تصح تولية كافر ولو على كفار ثانيهما كونه مكلفا فلا تصح إمامة صبي ومجنون بالإجماع ا هـ مغني عبارة المصنف في شرح مسلم قال القاضي عياض أجمع العلماء على أن الإمامة لا تنعقد لكافر* وعلى أنه لو طرأ عليه الكفر انعزل وكذا لو ترك إقامة الصلوات والدعاء إليها قال وكذلك عند جمهورهم البدعة قال وقال بعض البصريين تنعقد له وتستدام له؛ لأنه متأول قال القاضي فلو طرأ عليه كفر وتغيير للشرع أو بدعة خرج عن حكم الولاية وسقطت طاعته ووجب على المسلمين القيام عليه وخلعه ونصب إمام عادل إن أمكنهم ذلك فإن لم يقع ذلك إلا لطائفة وجب عليهم القيام بخلع الكافر ولا يجب في المبتدع إلا إذا ظنوا القدرة عليه فإن تحققوا العجز لم يجب القيام ويهاجر المسلم عن أرضه إلى غيرها ويفر بدينه ا هـ
*تفسير النووي  (ج : 1 صـ : 120)*
لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكافِرِينَ أَوْلِياءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أي لا يوال المؤمنون الكافرين لا استقلالا ولا اشتراكا مع المؤمنين وإنما الجائز لهم قصر الموالاة والمحبة على المؤمنين بأن يوالي بعضهم بعضا فقط. *واعلم أن كون المؤمن مواليا للكافر يحتمل ثلاثة أوجه : أحدهما : أن يكون راضيا بكفره ويتولاه لأجله. وهذا ممنوع لأن الرضا بالكفر كفر. وثانيها : المعاشرة الجميلة في الدنيا بحسب الظاهر. وذلك غير ممنوع. وثالثها : الركون إلى الكفار والمعونة والنصرة إما بسبب القرابة أو بسبب المحبة مع اعتقاد أن دينه باطل فهذا لا يوجب الكفر إلا أنه منهي عنه ، لأن الموالاة بهذا المعنى قد تجره إلى استحسان طريقته والرضا بدينه وذلك يخرجه عن الإسلام* فهذا هو الذي هدد اللّه فيه بقوله : وَمَنْ يَفْعَلْ ذلِكَ أي الموالاة مع الكافرين بالاستقلال أو بالاشتراك مع المؤمنين فَلَيْسَ أي الموالي مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ أي ليس من ولاية اللّه في شيء يطلق عليه اسم الولاية إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقاةً أي لا تتخذوا الكافرين أولياء ظاهرا ، أو باطنا في حال من الأحوال إلا حال اتقائكم   أي من جهتهم اتقاء. والمعنى أن اللّه نهى المؤمنين عن مداهنة الكفار إلا أن يكون الكفار غالبين ، أو يكون المؤمن في قوم كفار فيداهنهم بلسانه مطمئنا قلبه بالإيمان دفعا عن نفسه من غير أن يستحل دما حراما أو مالا حراما ، أو غير ذلك من المحرمات ومن غير أن يظهر الكفار على عورة المسلمين. والتقية لا تكون إلا مع خوف القتل مع صحة النية.
*روح المعاني (ج : 3 صـ :120)*
قال الله تعالى: لا يتخذ المؤمنون الكافرين أولياء من دون المؤمنين ومن يفعل ذلك فليس من الله من شيء إلا أن تتقوا منهم تقاة ويحذركم الله نفسه وإلى الله المصير. (آل عمران الآية: 28) وذكر بعضهم جواز الاستعانة بشرط الحاجة والوثوق، أما بدونهما فلا تجوز، وعلى ذلك يحمل خبر عائشة. وكذا ما رواه الضحاك عن ابن عباس فى سبب النزول، وبه يحصل الجمع بين أدلة المنع وأدلة الجواز على أن بعض المحققين ذكر أن الاستعانة المنهي عنها إنما هى استعانة الذليل بالعزيز. وأما استعانة العزيز بالذليل فقد أذن لنا بها، ومن ذلك اتخاذ الكفار عبيدا وخدما ونكاح الكتابيات منهم وهو كلام حسن، كما لايخفى. *ومن الناس من استدل بالآية على أنه لايجوز جعلهم عمالا ولا استخدامهم فى أمور الديوان وغيره. وكذا أدخلوا فى الموالاة المنهي عنها السلام والتعظيم والدعاء بالكنية والتوقير بالمجالس*. وفى فتاوى العلامة ابن حجر جواز القيام فى المجلس لأهل الذمة وعد ذلك من باب البر والإحسان المأذون به في قوله تعالى: لاينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم في الدين ولم يخرجكم من دياركم أن تبروهم وتقسطوا إليهم إن الله يحب المقسطين. *ولعل الصحيح أن كل ماعده العرف تعظيما وحسبه المسلمون موالاة فهو منهي عنها ولو مع أهل الذمة لا سيما إذا أوقع شيئا فى قلوب ضعفاء المؤمنين ولا أرى القيام لأهل الذمة فى المجلس إلا فى الأمور المحظورة لأن دلالته على التعظيم قوية وجعله من الإحسان لا أراه من الإحسان كما لايخفى*.
*تفسير آيات الأحكام (ج : 1 صـ : 181)*
لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ (28) قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (29)
الحكم الثالث : *هل تجوز تولية الكافر واستعماله في شؤون المسلمين؟ استدل بعض العلماء بهذه الآية الكريمة على أنه لا يجوز تولية الكافر شيئاً من أمور المسلمين ولا جعلهم عمالاً ولا خدماً ، كما لا يجوز تعظيمهم وتوقيرهم في المجلس والقيام عند قدومهم فإن دلالته على التعظيم واضحة ، وقد أُمِرْنا باحتقارهم { إِنَّمَا المشركون نَجَسٌ }* [ التوبة : 28 [قال ( ابن العربي ) : وقد نهى عمر بن الخطاب أبا موسى الأشعري بذمي كان استكتبه باليمن وأمره بعزله . قال ( الجصاص ) : ( وفي هذه الآية ونظائرها دلالة على أن لا ولاية للكافر على المسلم في شيء ، وأنه إذا كان الكافر ابن صغير مسلم بإسلام أمه ، فلا ولاية له عليه في تصرف ولا تزويج ولا غيره ، ويدل على أنّ الذمي لا يعقل جناية المسلم ، وكذلك المسلم لا يعقل جنايته ، لأن ذلك من الولاية والنصرة والمعونة ) .ومما يؤيد هذا الرأي ويرجحه قوله تعالى : { وَلَن يَجْعَلَ الله لِلْكَافِرِينَ عَلَى المؤمنين سَبِيلاً } [ النساء : 141 [
*الشرواني للشيخ عبد الحميد الشرواني (ج : 9 صـ : 73 – 74)*
*(قول المتن: ولا يستعان الخ) أي يحرم ذلك اهـ سم، عبارة المغني والنهاية: (تنبيه) ظاهر كلامهم أن ذلك لا يجوز ولو دعت الضرورة إليه، لكنه في التتمة صرح بجواز الاستعانة به أي الكافر عند الضرورة، وقال الأذرعي وغيره: أنه المتجه اهـ (قول المتن: بكافر) أي لأنه يحرم تسليطه على المسلم، نهاية ومنهج زاد المغني،* ولذا لا يجوز لمستحق القصاص من مسلم أن يوكل كافرا في استيفائه ولا للإمام أن يتخذ جلادا كافرا لإقامة الحدود على المسلمين اهـ، وقال ع ش بعد نقل ما ذكر عن الزيادي: *قول: وكذا يحرم نصبه في شيئ من أمور المسلمين نعم إن اقتضت المصلحة توليته في شيء لا يقوم به غيره من المسلمين أو ظهر فيمن يقوم به من المسلمين خيانة وأمنت في ذمي ولو لخوفه من الحاكم مثلا فلا يبعد جواز توليته فيه لضرورة القيام بمصلحة ما ولي فيه، ومع ذلك يجب على من ينصبه مراقبته ومنعه من التعرض لأحد من المسلمين بما فيه استعلاء على المسلمين* اهـ
*الدنيا والدين - (ج 1 / ص 171)*
*وأما عدله في غيره فقد ينقسم حال الإنسان مع غيره على ثلاثة أقسام: فالقسم الأول: عدل الإنسان فيمن دونه كالسلطان في رعيته، والرئيس مع صحابته، فعدله فيهم يكون بأربعة أشياء: باتباع الميسور، وحذف المعسور، وترك التسلط بالقوة، وابتغاء الحق في الميسور. فإن اتباع الميسور أدوم، وحذف المعسور أسلم، وترك التسلط أعطف على المحبة، وابتغاء الحق أبعث على النصرة*. وهذه أمور إن لم تسلم للزعيم المدبر كان الفساد بنظره أكثر، والاختلاف بتدبيره أظهر. روي عن النبي - صلى الله عليه وسلم - أنه قال: «أشد الناس عذابا يوم القيامة من أشركه الله في سلطانه فجار في حكمه» . وقال بعض الحكماء الملك يبقى على الكفر ولا يبقى على الظلم. وقال بعض الأدباء: ليس للجائر جار، ولا تعمر له دار. وقال بعض البلغاء: أقرب الأشياء صرعة الظلوم، وأنفذ السهام دعوة المظلوم. وقال بعض حكماء الملوك: العجب من ملك استفسد رعيته وهو يعلم أن عزه بطاعتهم. وقال أزدشير بن بابك: إذا رغب الملك عن العدل رغبت الرعية عن طاعته. وعوتب أنوشروان على ترك عقاب المذنبين فقال: هم المرضى ونحن الأطباء فإذا لم نداوهم بالعفو فمن لهم.
*تفسير الخازن (ج : 2 صـ : 296)*
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51) فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ (52) قوله عز وجل : { يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء } اختلف المفسرون في سبب نزول هذه الآية وإن كان حكمها عاماً لجميع المؤمنين ، لأن خصوص السبب لا يمنع من عموم الحكم ، فقال قوم : نزلت هذه الآية فى عبادة بن الصامت رضي الله عنه وعبد الله بن أبي سلول رأس المنافقين وذلك أنهما اختصما فقال عبادة إن لي أولياء من اليهود كثير عددهم شديدة شوكتهم وإني أبرأ إلى الله وإلى رسوله من ولايتهم ولا مولى لي إلا الله ورسوله فقال عبد الله بن أبيّ : لكني لا أبرأ من ولاية اليهود فإن أخاف الدوائر ولا بد لي منهم . فقال النبي صلى الله عليه وسلم : يا أبا الحباب ما نفست به من ولاية اليهود على عبادة بن الصامت فهو لك دونه فقال : إذن أقبل فأنزل الله هذه الآية . وقال السدي : لما كانت وقعة أحد اشتد الأمر على طائفة من الناس وتخوفوا أن يدال عليهم الكفار فقال رجل من المسلمين : أنا ألحق بفلان اليهودي وآخذ منه أماناً إني أخاف أن يدال علينا اليهود . وقال رجل آخر : أنا ألحق بفلان النصراني من أهل الشام وآخذ منه أماناً . فأنزل الله هذ الآية ينهاهم عن موالاة اليهود والنصارى .
وقال عكرمة : نزل فى أبي لبابة بن عبد المنذر لما بعثه النبي صلى الله عليه وسلم إلى بني قريظة حين حاصرهم فاستشاروه في النزول وقالوا : ماذا يصنع بنا إذا نزلنا؟ فجعل اصبعه فى حلقه أشار إلى أنه الذبح وأنه يقتلكم فأنزل الله { يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء } *فنهى الله المؤمنين جميعاً أن يتخذوا اليهود والنصارى أنصاراً وأعواناً على أهل الإيمان بالله ورسوله وأخبر أنه من اتخذهم أنصاراً وأعواناً وخلفاء من دون الله ورسوله والمؤمنين فإنه منهم وإن الله ورسوله والمؤمنين منه براء* { بعضهم أولياء بعض } يعني أن بعض اليهود أنصار لبعض على المؤمنين وأن النصارى كذلك يد واحدة على من خالفهم فى دينهم وملتهم { ومن يتولهم منكم فإنه منهم } يعني ومن يتولَّ اليهود والنصارى دون المؤمنين فينصرهم على المؤمنين فهو من أهل دينهم وملتهم لأنه لا يتولى مولى إلا وهو راض به وبدينه وإذا رضيه ورضى دينه صار منهم وهذا تعليم من الله تعالى وتشديد عظيم في مجانبة اليهود والنصارى وكل من خالف دين الإسلام *{ إن الله لا يهدي القوم الظالمين } يعني أن الله لا يوفق من وضع الولاية في غير موضعها فتول اليهود والنصارى مع علمه بعداوتهم لله ولرسوله وللمؤمنين* ، روي أن أبا موسى الأشعري قال : قلت لعمر بن الخطاب : إن لي كاتباً نصرانياً فقال : مالك وله قاتلك الله ألا اتخذت حنيفاً؟ يعني مسلماً أما سمعت قول الله عز وجل : { يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعض } قلت : له دينه ولي كتابته : فقال : لا أكرّمهم إذا أهانهم الله ولا أعزهم إذا أذلهم الله ولا أدنيهم إذا أبعدهم الله
*الموسوعة الفقهية الكويتية (ج : 4 صـ : 18)*
الاستعانة بغير المسلمين في غير القتال: - تجوز الاستعانة في الجملة بغير المسلم، سواء أكان من أهل الكتاب أم من غيرهم في غير القربات، كتعليم الخط والحساب والشعر المباح، وبناء القناطر والمساكن والمساجد وغيرها فيما لا يمنع من مزاولته شرعا. ولا تجوز الاستعانة به في القربات كالأذان والحج وتعليم القرآن، وفي الأمور التي يمنع من مزاولتها شرعا، كاتخاذه في ولاية على المسلمين، أو على أولادهم
B. Bolehkah mengikuti keputusan Bahtsul Masa’il yang menghasilkan keputusan seperti di atas, dan apa alasannya?
_*Jawaban:*_
*Tidak diperbolehkan dengan argumentasi sebagai berikut:*
Keputusan GP ANSOR bertentangan dengan Nash-nash Syar’i, yaitu seorang muslim harus memilih pemimpin muslim.
Bertentangan dengan hasil muktamar NU yang mempunyai kedudukan lebih tinggi, sehingga secara organisasi keputusan GP ANSHOR tidak mempunyai kekuatan hukum.
*Catatan:*
Fatwa-fatwa kontemporer yang membolehkan Non Muslim menjabat jabatan khusus (kepemimpinan yang  levelnya di bawah kepala Negara) selagi berkompeten tidak bisa dibenarkan dan diikuti karena bertentangan dengan Al-Quran dan Ijma’.
Seluruh umat Islam wajib menggunakan haknya untuk memilih kandidat muslim meskipun Indonesia bukan Negara konsep fikih, tetapi menggunakan hak pilih sesuai keyakinan agama adalah konstitusional.
_*Maroji’:*_
1. Ghoyah Al-Wushul, hal: 105
2. Syarh An-Nawawi ala Al-Muslim, vol: 12 hal: 229
3. Majmu’ah Sab’ah Kutub Mufidah, hal: 104-10
*غاية الوصول في شرح لب الأصول (صـ : 105)*
*(وخرقه) أي إجماع القطعي وكذا الظني عند من اعتبره بالمخالفة (حرام) للتوعد عليه بالتوعد على اتباع غير سبيل المؤمنين في الآية السابقة*.
*شرح النووي على مسلم (ج 12/ص 229)*
قال القاضي عياض أجمع العلماء على أن الإمامة لا تنعقد لكافر وعلى أنه لو طرأ عليه الكفر انعزل قال وكذا لو ترك إقامة الصلوات والدعاء إليها قال وكذلك عند جمهورهم البدعة قال وقال بعض البصريين تنعقد له وتستدام له لأنه متأول قال القاضي فلو طرأ عليه كفر وتغيير للشرع أو بدعة خرج عن حكم الولاية وسقطت طاعته ووجب على المسلمين القيام عليه وخلعه ونصب أمام عادل أن أمكنهم ذلك فإن لم يقع ذلك الا لطائفة وجب عليهم القيام بخلع الكافر.
*مجموعة سبعة كتب مفيدة (صـ : 104 – 105 )*
وشروط التقليد ستة:
الأول - أن يكون مذهب المقلَّد مدوناً لتتمكن فيه عواقب الأنظار ويتحصل له العلم اليقيني بكون المسألة المقلد بها من هذه المذاهب.
الثاني - حفظ المقلِّد شروط إمام المذهب في تلك المسألة.
الثالث - *أن لايكون التقليد فيما ينقض فيه قضاء القاضي، بأن لايكون خلاف نص الكتاب أو السنة أو الإجماع أو القياس الجلي*.
*Daftar Delegasi Musyawaroh Kubro ke 51 PP. MUS:*
1. PP. Al-Falah
Ploso Mojo Kediri
2. PP. Lirboyo
Kodya Kediri
3. LPI. Al-Khozini
Buduran Sidoarjo
4. PP. Langitan
Widang Tuban
5. PP. Sidogiri
Kraton Pasuruan
6. PP. Manba’ul Ulum
Pakis Pati
7. PP. Manba’ul Ulum
Bata-bata Pamekasan Madura
8. PP. Zainul Islah
Kanigaran Probolinggo
9. PP. Assunniyyah
Kencong Jember
10. PP. Roudlotut Thalibin
Tanggir Singgahan Tuban
11. PP. Al-Hidayat
Guntur Demak
12. LP. Al-Hamidy
Banyuanyar Pamekasan
13. PP. Besuk
Kejayan Pasuruan
14. PP. Ash-Shiddiq
Narukan Kragan Rembang
15. PP. Darut Tauhid Al-Hasani
Senori Tuban
16. PP. At-Tauhidiyyah
Giren Talang Tegal
17. PP. At-Taroqqi
Sedan Rembang
18. PP. Sirojul Mukhlasin
Payaman Magelang
19. PP. Darussalam
Blokagung Banyuwangi
20. LPI Maktuba Al-Majidiyyah Pegantenan Pamekasan
21. LPI Maktab Nubdzatul Anwar Pegantenan Pamekasan
22. PP. Al-Anwar
Karangmangu Sarang Rembang
23. PP. MIS
Karangmangu Sarang Rembang
24. PP. Mansya’ul Huda
Karangmangu Sarang Rembang
25. Perguruan MGS
Karangmangu Sarang Rembang
26. Perguruan MPG
Bajing Jowo Sarang Rembang
27. Dewan Murid MGS
Karangmangu Sarang Rembang
28. Alumni PP. MUS
Karangmangu Sarang Rembang
29. Fathul Qorib PP. MUS
Karangmangu Sarang Rembang
30. Fathul Mu’in PP. MUS
Karangmangu Sarang Rembang
31. Minhajut Thalibin PP. MUS Karangmangu Sarang Rembang
32. M3S PP. MUS Karangmangu Sarang Rembang.

Jumat, 07 April 2017

munadzarah

MUNADHOROH HMJ ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR
Pemikiran Tafsir Quraisy Syihab
Oleh : Muhammad Syihabbuddin, M.Ag
Prof. Dr. Quraisy Syihab merupakan salah satu tokoh mufassir dari Indonesia. Beliau memiliki pesantren atau lembaga pendidikan bernama Pusat Studi Al-Qur’an di Jakarta. Muhammad Syihabuddin, M.Ag, dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo, yang sekaligus pemateri pada tema diskusi ini merupakan salah satu muridnya.
            Bapak Quraisy Syihab merupakan tokoh yang sederhana dan dekat dengan muridnya. Hal tersebut dibuktikan ketika beliau mengisi pengajian tafsir di pesantrennya. Beliau tidak tampil layaknya seorang kyai yang berpakaian rapi dan berpecis. Justru sebaliknya, beliau berpenampilan layaknya anak muda, berkaos, bercelana levis, dan tidak memakai pecis. Hal tersebut dilakukan bukan tanpa alasan, melainkan supaya murid-muridnya tidak merasa segan dan takut saat beliau mengisi kajian.
            Kepribadian bapak Quraisy Syihab yang  tawadu’ dan ingin selalu dekat dengan muridnya, sangat sulit ditiru tokoh lain. Bapak Muhammad Syihabuddin mengatakan, bahwa bapak Quraisy Syihab bisa dengan mudah dan cepat mengenali nama-nama muridnya hanya dalam satu pertemuan. Pemikiran tafsir beliau juga banyak diadopsi oleh masyarakat, baik dalam lingkup akademis maupun umum.
            Dalam pemikiran tafsirnya, baik tafsir maudu’i  maupun tahlili, beliau dipengaruhi oleh tiga figur, yaitu dari segi sastra, adabul  istima’i, dan hukum atau kehidupan sosial. Dari segi sastra, beliau terpengaruh oleh pemikiran ‘Aisyah binti Syati, dari segi adabul istima’i  beliau terpengaruh oleh Muhammad Abduh, sedangkan segi hukum dan kehidupan sosial, beliau dipengaruhi tafsir Ibnu ‘Atiyah.
            Penganalisaan bahasa yang mengacu pada akar bahasa dalam setiap tafsiran Al-Qur’an menjadi hal terpenting dan utama yang dilakukan oleh bapak Quraisy Syihab. Kata yang sama dalam Al-Qur’an tetapi berbeda tempatnya akan berbeda maknanya. Al-Qur’an tidak bisa diartikian hanya merujuk pada kamus, perlu memahami akar bahasanya dan asbabun nuzul  ayat tersebut.
           
Contohnya, kata musyawarah dalam Al-Qur’an, musyawarah yang kita ketahui yaitu, perkumpulan dua orang atau lebih untuk saling mengemukakan pendapatnya demi sesuatu tujuan bersama. Berbeda dengan bapak Quraisy Syihab, beliau memahami kata musyawarah dengan menganalisa akar bahasanya, hingga beliau menemukan akar bahasa dari kata musyawarah tersebut, yaitu Isytiyarah  yang bermakna lebah. Seperti sulit dipikirkan oleh kita, apa hubungan antara musyawarah dan lebah. Bapak Quraisy Syihab merujuk pada tafsir Al-Biqo’i, di mana adanya munasabah dari dua kata tersebut, maka musyawarah yang ditafsirkan oleh bapak Quraisy Syihab adalah perkumpulan atau interaksi yang bermanfaat dan saling memberi manfaat, tidak hanya perkumpulan biasa, karena lebah itu selalu memberi manfaat.

            Bapak Quraisy Syihab mengajarkan pada kita yang ada dalam lingkup akademisi untuk tidak asal mengartikan Al-Qur’an dan jangan asal mengutip arti dari ayat-ayat Al-Qur’an. Beliau sangat hati-hati dalam mengartikan dan menafsiri Al-Qur’an. Menafsirkan Al-Qur’an membutuhkan energi dan kinerja yang cukup.