MUNADHOROH
HMJ ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR
Pemikiran
Tafsir Quraisy Syihab
Oleh
: Muhammad Syihabbuddin, M.Ag
Prof.
Dr. Quraisy Syihab merupakan salah satu tokoh mufassir dari Indonesia.
Beliau memiliki pesantren atau lembaga pendidikan bernama Pusat Studi Al-Qur’an
di Jakarta. Muhammad Syihabuddin, M.Ag, dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora
UIN Walisongo, yang sekaligus pemateri pada tema diskusi ini merupakan salah
satu muridnya.
Bapak Quraisy Syihab merupakan tokoh
yang sederhana dan dekat dengan muridnya. Hal tersebut dibuktikan ketika beliau
mengisi pengajian tafsir di pesantrennya. Beliau tidak tampil layaknya seorang kyai
yang berpakaian rapi dan berpecis. Justru sebaliknya, beliau berpenampilan
layaknya anak muda, berkaos, bercelana levis, dan tidak memakai pecis. Hal
tersebut dilakukan bukan tanpa alasan, melainkan supaya murid-muridnya tidak
merasa segan dan takut saat beliau mengisi kajian.
Kepribadian bapak Quraisy Syihab
yang tawadu’ dan ingin selalu dekat
dengan muridnya, sangat sulit ditiru tokoh lain. Bapak Muhammad Syihabuddin
mengatakan, bahwa bapak Quraisy Syihab bisa dengan mudah dan cepat mengenali
nama-nama muridnya hanya dalam satu pertemuan. Pemikiran tafsir beliau juga
banyak diadopsi oleh masyarakat, baik dalam lingkup akademis maupun umum.
Dalam pemikiran tafsirnya, baik
tafsir maudu’i maupun tahlili,
beliau dipengaruhi oleh tiga figur, yaitu dari segi sastra, adabul istima’i, dan hukum atau kehidupan sosial.
Dari segi sastra, beliau terpengaruh oleh pemikiran ‘Aisyah binti Syati, dari
segi adabul istima’i beliau
terpengaruh oleh Muhammad Abduh, sedangkan segi hukum dan kehidupan sosial,
beliau dipengaruhi tafsir Ibnu ‘Atiyah.
Penganalisaan bahasa yang mengacu
pada akar bahasa dalam setiap tafsiran Al-Qur’an menjadi hal terpenting dan
utama yang dilakukan oleh bapak Quraisy Syihab. Kata yang sama dalam Al-Qur’an
tetapi berbeda tempatnya akan berbeda maknanya. Al-Qur’an tidak bisa diartikian
hanya merujuk pada kamus, perlu memahami akar bahasanya dan asbabun nuzul ayat tersebut.
Contohnya,
kata musyawarah dalam Al-Qur’an, musyawarah yang kita ketahui yaitu,
perkumpulan dua orang atau lebih untuk saling mengemukakan pendapatnya demi
sesuatu tujuan bersama. Berbeda dengan bapak Quraisy Syihab, beliau memahami
kata musyawarah dengan menganalisa akar bahasanya, hingga beliau menemukan akar
bahasa dari kata musyawarah tersebut, yaitu Isytiyarah yang bermakna lebah. Seperti sulit
dipikirkan oleh kita, apa hubungan antara musyawarah dan lebah. Bapak Quraisy
Syihab merujuk pada tafsir Al-Biqo’i, di mana adanya munasabah dari dua kata
tersebut, maka musyawarah yang ditafsirkan oleh bapak Quraisy Syihab adalah
perkumpulan atau interaksi yang bermanfaat dan saling memberi manfaat, tidak
hanya perkumpulan biasa, karena lebah itu selalu memberi manfaat.
Bapak Quraisy Syihab mengajarkan
pada kita yang ada dalam lingkup akademisi untuk tidak asal mengartikan
Al-Qur’an dan jangan asal mengutip arti dari ayat-ayat Al-Qur’an. Beliau sangat
hati-hati dalam mengartikan dan menafsiri Al-Qur’an. Menafsirkan Al-Qur’an
membutuhkan energi dan kinerja yang cukup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar